Anggaran Bnpb Menurun Terus, Berimbas Kepada Alat Deteksi Tsunami Tak Terurus

By | Oktober 14, 2019

Sebagai tempat rawan gempa dan tsunami, Indonesia seharusnya mempunyai alat pendeteksi tsunami kan bung? apalagi berkaca pada peristiwa tsunami di Aceh dan tusnami setinggi 5 meter yang memporak-poranda kan Palu yang dipicu dengan gempa bermagnitudo 7,4. Pertanyaanya apakah Indonesia mempunyai alat deteksi tsunami?

“Jadi enggak ada buoy tsunami di Indonesia, semenjak 2012 buoy Tsunami sudah tidak ada yang beroperasi hingga kini ya tidak ada,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di kantor BNPB.

Padahal, Buoy tsunami sangat diperlukan, sebagai alat pendeteksi otomatis alat tersebut sanggup memastikan bahwa tusnami ada. Dan buoy juga sebagai salah satu belahan sistem peringatan dini yang didasarkan pada pemodelan. Namun, peristiwa yang sanggup tiba kapan saja tak sejalan dengan turunya anggaran. Sebab itulah salah satu alasan kenapa buoy tsunami tak lagi beroperasi. Tetapi secara lebih detail ia pun tak mengetahui jikalau itu merupakan kewenangan dari BMKG.

“Mengapa dari 2012 hingga kini belum diadakan ya mungkin sangat terkait dengan asal pendanaan. Kalau kita melihat ya pendanaan apalagi turun setiap tahun. Dulu sempat hampir mendekati Rp 2 triliun tahun ini hanya Rp 700,” ungkap Sutopo.

Buoy merupakan sistem peringatan dini tsunami (sistem pelampung) yang dipasang Indonesia di tengah laut. Buoy merupakan salah satu opsi teknologi pendeteksi dini tercepat mengenai potensi tsunami.

“Ya jikalau berdasarkan saya memerlukan, sangat memerlukan wilayah Indonesia itu yang rawan tsunami. Kejadian tsunami sering terjadi dan menimbulkan banyak korban, disatu sisi pengetahun masyatakat perilaku prilaku antisipasi tsunami masih sangat minim kita memerlukan deteksi tsunami yang ditempatkan di laut,” ujar Sutopo.